Permasalahan Ekonomi, Alat Pemuas Kebutuhan Manusia dan Kelangkaan Sumber Daya Alam

Mater pembahasan tulisan ini adalah: Alat pemuas kebutuhan manusia, permasalahan ekonomi, kelangkaan barang, dan kelangkaan sumber daya alam.

Alat Pemuas Kebutuhan Manusia

Untuk kelangsungan hidup, manusia memerlukan makan, minum, pakaian, perumahan, dan sebagainya. Kebutuhan manusia makin hari makin meningkat. Karena kebutuhan makin meningkat, maka terjadi kelangkaan atau keterbatasan.

Kelangkaan atau Keterbatasan

Samakah barang-barang yang kamu beli sewaktu di SD dengan di SMP? Tentunya berbeda, bukan?

Untuk mendapatkan kebutuhan yang makin hari makin beragam baik jenis maupun jumlah, maka tidak salah manusia selalu berusaha untuk mendapatkan benda-benda kebutuhan tersebut. Mengapa manusia begitu giat berlomba meme-nuhi kebutuhan hidupnya?
Alat Pemuas Kebutuhan Manusia
Gambar: Tanah Sebagai Sumber Utama Kemakmuran

Berikut ini adalah alasannya.

1) Banyak orang yang beranggapan bahwa barang-barang tersebut merupakan kebutuhan pokok bagi mereka. Contohnya, seseorang sudah cukup untuk sandang dan pangan, akan tetapi karena ingin cepat memiliki kendaraan mewah ia berupaya memaksakan diri untuk mendapatkan barang tersebut.

2) Barang (alat) pemuas kebutuhan tersebut sifatnya sangat terbatas. Keadaan inilah yang selalu disadari oleh manusia. Akibatnya, tidak sedikit manusia yang selalu menambah jam kerjanya, sekalipun telah pensiun dari perusahaan atau instansi pemerintahan, ia kembali bekerja di instansi atau perusahaan yang lainnya.

Keterbatasan akan barang akan selalu menjadi pikiran setiap manusia. Mengapa demikian? Karena mereka sadar jumlah manusia makin hari makin bertambah, dan menurut seorang ahli, manusia
bertambah menurut deret ukur, yaitu 1, 2, 4, 8, 16, ... dst.
Sedangkan, kebutuhan pokok manusia bertambah menurut deret hitung, yaitu 1,2, 3, 4, 5, ....

Dengan kenyataan seperti ini, timbullah suatu kekhawatiran pada diri setiap manusia bahwa kebutuhan hidup tidak akan terpenuhi apabila kita lengah dan lalai dalam kegiatan ekonominya.

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus memperhatikan norma atau aturan yang ada, baik yang dibuat oleh manusia sendiri maupun agama. Oleh karena itu, manusia harus berhatihati dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan ekonomi selalu berkisar pada permasalahan kelangkaan sumbersumber barang kehidupan (kebutuhan) yang diperlukan oleh manusia.
Bertambahnya jumlah manusia menyebabkan makin bertambah kebutuhan hidup manusia.

Sedangkan, persediaan akan barang tersebut makin terbatas dan sulit untuk disesuaikan dengan jumlah manusia. Beberapa sumber daya alam yang makin berkurang, baik kualitas maupun kuantitasnya adalah:

a. Tanah

Tanah merupakan sumber utama bagi kemakmuran. Secara kuantitatif, tanah tidak akan bertambah, sedangkan kesuburannya akan berkurang jika cara pengolahannya tidak bijak. Berdasarkan jenisnya, tanah dapat dikatakan sebagai sumber kehidupan manusia yang terbatas.

b. Air

Air merupakan sumber kemakmuran dan bersifat terbatas. Karena pengelolaan hutan dan sumber air yang tidak bijak, air bisa menjadi masalah, misalnya datangnya banjir atau mengakibatkan tanah longsor, seperti yang terjadi pada Februari 2007, hampir 90% ibukota Jakarta terendam banjir.

c. Hutan

Hutan termasuk sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi hal tersebut memerlukan waktu yang sangat lama. Pengolahan hutan yang tidak bijaksana akan menimbulkan malapetaka, misalkan saja banjir dan tanah longsor yang banyak menelan korban jiwa.

d. Bahan Tambang (Bahan Galian)

Bahan tambang atau bahan galian merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, artinya jika habis kita tidak dapat meremajakan kembali. Oleh karena itu, dalam pemanfaatan sumber daya
alam, kita harus bijaksana dalam menggunakannya. Contoh bahan tambang atau bahan galian adalah besi, minyak bumi, tembaga, timah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Permasalahan Ekonomi, Alat Pemuas Kebutuhan Manusia dan Kelangkaan Sumber Daya Alam"

Post a Comment